psikologi kedaulatan diri

mengambil kendali atas hal yang bisa diatur di dunia yang acak

psikologi kedaulatan diri
I

Pernahkah kita merasa seperti sekadar penumpang di dalam hidup kita sendiri? Bangun pagi, mengecek ponsel, dan tiba-tiba suasana hati kita sudah disetir oleh algoritma media sosial. Lalu kita keluar rumah. Jalanan macet parah. Di kantor, ada kebijakan mendadak yang mengacaukan rencana kerja kita. Pulang ke rumah, harga barang-barang tiba-tiba naik. Rasanya dunia ini sangat acak, liar, dan kita tidak punya kendali apa-apa. Kita hanya bidak catur yang digerakkan oleh tangan-tangan tak terlihat bernama nasib, ekonomi, atau kebetulan. Wajar jika kita merasa lelah. Sangat lelah. Otak manusia memang tidak dirancang untuk terus-menerus dibombardir oleh ketidakpastian. Namun, sebelum kita menyerah pada kekacauan ini, mari kita duduk sejenak. Tarik napas. Karena ada sebuah rahasia kecil tentang bagaimana pikiran kita bekerja di tengah dunia yang kacau, dan rahasia ini mungkin bisa mengubah cara kita melihat segalanya.

II

Sepanjang sejarah, manusia selalu benci pada ketidakpastian. Ribuan tahun lalu, ketika nenek moyang kita melihat kilat menyambar dan mendengar guntur bergemuruh, mereka ketakutan. Untuk meredakan rasa takut itu, mereka menciptakan mitos tentang dewa-dewa di langit. Mengapa? Karena memiliki cerita—meskipun itu fiksi—jauh lebih menenangkan daripada menerima fakta bahwa alam semesta ini bergerak secara acak. Kita butuh narasi bahwa ada sesuatu yang memegang kendali. Dalam dunia psikologi, dorongan ini sangat fundamental. Saat kita merasa kehilangan kendali, sistem saraf kita langsung membunyikan alarm tanda bahaya. Stres melonjak. Hormon kortisol membanjiri darah. Jika dibiarkan terus-menerus, perasaan tidak berdaya ini bisa menghancurkan mental dan fisik kita. Para ilmuwan di pertengahan abad ke-20 mulai menyadari fenomena ini. Mereka bertanya-tanya: di tengah tekanan yang sama beratnya, mengapa ada orang yang hancur lebur, sementara yang lain justru tetap tangguh dan waras?

III

Untuk menjawab misteri itu, mari kita mundur ke awal tahun 1970-an. Seorang psikolog bernama Jay Weiss melakukan sebuah eksperimen yang kini menjadi legenda di dunia sains saraf (neuroscience). Ia membagi tikus-tikus ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama diberi kejutan listrik ringan, tetapi mereka punya tuas. Jika tuas itu ditekan, listriknya mati. Kelompok kedua juga diberi kejutan listrik yang sama persis durasi dan kekuatannya. Bedanya, tuas mereka rusak. Mereka tidak bisa mematikan listrik itu. Kelompok ketiga santai-santai saja tanpa kejutan listrik. Hasilnya bisa ditebak, kelompok ketiga paling sehat. Tapi, coba tebak apa yang terjadi antara kelompok pertama dan kedua? Secara logika, karena keduanya menerima rasa sakit fisik yang sama persis, tingkat stres mereka seharusnya sama, bukan? Ternyata tidak. Tikus di kelompok kedua hancur secara fisik dan mental. Mereka stres berat dan penyakitan. Sebaliknya, tikus di kelompok pertama kondisinya hampir sama sehatnya dengan tikus yang tidak disetrum sama sekali. Pertanyaannya: mengapa rasa sakit yang sama bisa menghasilkan dampak yang jauh berbeda?

IV

Inilah momen aha kita. Kelompok pertama tetap sehat karena satu alasan tunggal: mereka punya kendali. Eksperimen Weiss membuktikan bahwa yang menghancurkan kita bukanlah rasa sakit atau masalah itu sendiri, melainkan perasaan tidak berdaya saat menghadapinya. Dalam psikologi, ini disebut Locus of Control, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Julian Rotter pada tahun 1954. Orang dengan Locus of Control eksternal percaya bahwa hidup mereka ditentukan oleh nasib, bos, atau cuaca. Sebaliknya, mereka yang memiliki Locus of Control internal tahu bahwa dunia memang acak, tapi mereka punya kendali atas respons mereka sendiri. Saat kita mengambil tindakan sekecil apa pun di tengah kekacauan, bagian depan otak kita (prefrontal cortex) yang mengatur logika, akan menyala. Ia lalu mengirim pesan ke pusat rasa takut di otak (amygdala) dan berbisik, "Tenang saja, kita yang pegang setir." Inilah esensi dari kedaulatan diri atau self-sovereignty. Kedaulatan diri bukanlah delusi bahwa kita bisa mengontrol seluruh dunia. Itu mustahil. Kedaulatan diri adalah kesadaran penuh bahwa di antara stimulus yang datang dan respons yang kita berikan, ada jeda. Dan di dalam jeda itulah letak kebebasan kita. Hal ini dibuktikan secara ekstrem oleh psikiater Viktor Frankl saat ia bertahan hidup di kamp konsentrasi Nazi yang brutal. Ia kehilangan segalanya, kecuali satu hal: kebebasannya untuk memilih sikap.

V

Dunia di luar sana tidak akan tiba-tiba menjadi lebih ramah. Hujan akan tetap turun di saat kita tidak membawa payung. Kemacetan akan tetap ada. Kebijakan atasan mungkin tetap akan membuat kita menghela napas panjang. Dan itu sama sekali tidak apa-apa. Teman-teman, kita tidak perlu mencoba mengendalikan ombak di lautan; kita hanya perlu belajar berselancar. Mulailah dari hal-hal yang sangat kecil. Saat dunia terasa kacau, ambil kembali kedaulatan kita lewat tindakan sederhana. Rapikan tempat tidur kita di pagi hari. Pilih menu sarapan kita dengan sadar. Tarik napas dalam-dalam saat terjebak macet dan pilih playlist lagu yang membuat kita bahagia. Hal-hal kecil ini adalah "tuas" kita. Saat kita menekan tuas tersebut, kita sedang memberi tahu otak kita bahwa kita bukanlah korban dari keadaan. Kita adalah raja dan ratu di dalam pikiran kita sendiri. Mari kita ambil kembali kendali itu, satu napas, satu pilihan kecil, setiap harinya. Karena pada akhirnya, bukan dunia yang menentukan siapa kita, melainkan bagaimana cara kita meresponsnya.